Popular Posts

irfblogBacklink






Rating for erosisland.blogspot.com

My Ping in TotalPing.com

desain 1

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

desain 2

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

desain 3

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

desain 4

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

desain 5

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

Selasa, 08 Januari 2013

Inilah Ciri-ciri Cewek yang EXPERT DALAM SEKS

oleh Irwan Firdaus

Expert Dalam Seks


Terdapat beberapa ciri wanita yang expert dalam seks. Salah satunya adalah setengah telanjang di tempat umum atau di mana saja, sehingga mata lelaki menjadi jelalatan atau penasaran.

1. Mampu Mengobarkan Gairah Seks Sendiri

Wanita jenis ini mampu mengobarkan api asmaranya sendiri tanpa lama-lama menunggu dirangsang pria. Survei menunjukkan wanita jenis ini mampu berfantasi yang mengundang gairah. Misalkan, mengandaikan diri telanjang atau setengah telanjang di tempat umum atau di mana saja, sehingga mata lelaki menjadi jelalatan atau penasaran.

2. Tubuhku Istana Kenikmatanku

Slogan ini merupakan keyakinan diri wanita jenis ini. Ia memandang dirinya sebagai tambang kenikmatan. Bilamana pria tidak atau kurang mampu memuaskan, ia akan membimbing menunjukkan tempat-tempat yang harus dirangsang dan dioptimalkan. Misalnya menunjukkan tempat G-spot. Bahkan ia suka mengambil inisiatif .

3. Akulah Dewi Seks

Dengan pengakuan sebagai Dewi Seks, ia suka striptis atau tarian erotis di depan pria sebelum hubungan intim. Ia mau melakukan apa saja demi kepuasan bersama. Terkadang ia mengelabuhi sesuatu yang pada akhirnya ingin hubungan intim dengan pria. Ia suka pura-pura meminta sesuatu tetapi tersirat ajakan hubungan intim.

4. Memberikan Desahan Erotis

Biasanya suka menjerit atau teriak ketika dirangsang. Ia pun tidak segan-segan mendesah sambil minta dicium organnya. Misal, payu dara, kaki, leher, telinga, dll. Ekspresi erotis banyak diungkapkan oleh tipe wanita ini.

5. Berorientasi Pada Proses Menuju Orgasme

Biasanya wanita tipe ini tidak berorientasi pada orgasme, tetapi pada proses menuju Orgasme. Wanita yang berupaya semaksimal mungkin mencapai titik klimaks, tidak menganggap orgasme sebagai bonus. Ia beranggapan rangkaian menuju orgasme penuh dengan kenikmatan dan keasyikan. Orgasme atau tidak sebenarnya tergantung pada keyakinan wanita sendiri. Dengan beranggapan dan yakin akan orgasme, maka apa pun rangkaian hubungan intim akan membuahkan orgasme.

6. Punya Resep Khas Merangsang Pria

Sebagian besar wanita tahu bahwa cara menyenangkan dan memuaskan pria adalah langsung memberikan rangsangan ke area bawah pusar. Namun sebagian wanita punya resep khusus selain itu. Misalnya, menciumi tengkuk pria atau cara lain yang bisa membakar gairah pria.

7. Tahu Apa Yang Pria Mau

Selain memberikan servis yang memuaskan, wanita jenis ini tahu apa yang diinginkan pria pasangannya. Terkadang sebagian pria tidak mendambakan yang aneh-aneh, tetapi cukup di-karaoke saja. Dengan penguasaan teknik oral sex, wanita jenis ini mampu memberikan sensasi kenikmatan hubungan intim yang luar biasa. Ia tak segan-segan memenuhi segala keinginan pria.

8. Suka Bereksperimen Posisi dan Jenis Foreplay

Meluangkan waktu untuk bereksperimen dengan posisi baru dan foreplay baru merupakan kesukaan wanita jenis ini. Selain menemukan kenikmatan baru, jiwa petualang bisa terakomodasi.

9. Selalu Membuat Hubungan Intim Penuh Gairah dan Penuh Nuansa Baru

Wanita tipe ini selalu memberikan gairah baru dan nuansa baru dalam hubungan intim. Adakalanya ia mencari inspirasi dengan menyewa video blue agar gairah seks bertambah. Bilamana gairah menurun, ada saja siasat yang dimiliki wanita ini. Misal, hubungan intim di tempat baru, foreplay dengan aneka variasi baru, membaca majalah “HOT”, dll.

10. Menggairahkan Setiap Saat

Wanita model ini rela bangun lebih pagi guna mempersiapkan diri lebih menggairahkan. Misal, pagi-pagi sudah mandi sehingga badan sudah bersih, wangi, dan menggairahkan. Hubungan intim pagi hari pun siap dilakukan jika memang dikehendaki. Pria pun tidak enggan atau sungkan. Wanita ini sepanjang siang dan malam selalu tampak menggairahkan. Ia pun suka merayu pasangan seakan baru pertama kali.

11. Seks Merupakan Prioritas Utama

Wanita tipe ini tidak pernah enggan atau menolak hubungan intim. Tidak ada kata-kata, “Saya sedang capai,” ataupun ungkapan lain yang senada. Ia tahu bahwa seks merupakan obat pertama sebagai penawar capai, stress, enggan, dll. Meskipun sedang ogah-ogahan melayani suami, wanita jenis ini mampu mengatasinya dengan baik dan memberikan pelayanan yang memuaskan. Keengganan dapat diubah menjadi kenikmatan.

Riset Lagu-lagu Nyeleneh, Misterius, Kontroversial, Enigmatik, Psychdelic, Satanik

Oleh Irwan Firdaus

Riset Lagu Nyeleneh

"Riset lagu-lagu Nyeleneh, Misterius, Kontroversial, Enigmatik, Psychdelic, Satanik, "you-name-it" dari band-band era 70 sampai 80'an?"

Nama seperti "beelzebub" (salah satu nama iblis) hingga "bismillah" (kalimat suci dalam agama) ada pada lagu "Bohemian Rhapsody"-nya Queen, sehingga lagu ini dibanned di beberapa negara muslim (khususnya Iran). Ajaibnya, dengan kerumitan komposisi serta lirik-liriknya yang multitafsir, lagu Bohemian Rhapsody menjadi lagu yang paling banyak dirikues radio-radio besar di Inggris.

"Stairway to Heaven"-nya Led Zeppelin kalau diputar balik (backward) seolah-olah terdengar kalimat : "Oh here's to my sweet Satan./ The one whose little path would make me sad, whose power is Satan./ He will give those with him 666./There was a little tool shed where he made us suffer, sad Satan."

Lagu "Stairway to Heaven"-nya Led Zeppelin ini menjadi kontroversial saat Januari 1982, dalam sebuah acara talkshow di TeleVisi.

Hotel California -nya Eagles juga termasuk korban jika diputar-balik (backward), maka akan muncul pesan Satanic-nya (di YouTube banyak tuh videonya). Tapi secara makna lirik, "Hotel California"-nya Eagles masih gampang diikutin, kalau mau dibandingkan dengan lirik-lirik -nya "Stairway to Heaven", yang bener-benar membingungkan.

Bahkan para penganut paham Teori Konspirasi yakin kalau Jimmy Page bisa main gitar se-edun itu gara-gara menjual jiwa -nya kepada Setan.
Merasa nyaman meski mati rasa (Comfortably Numb!). Sekarang kita coba nge-tes Pink Floyd! David Gilmour sebagai dewa gitar lain -nya. Supergrup Rock Pink Floyd dari awal-awal "British Art Rock". Album awal genrenya masih "Psycadelic Rock" di sajikan oleh jaman gila -nya front man Syd Barrett sampai metamorfosis ke "Progressive Rock" di album "ummagumma", yang bikin Floyd jadi seperti sekarang. Kalau Genesis band yang lahir di tahun yang sama mereka metamorfosis jadi band mainstream dengan genre pop rock. Terus "Concert Theatrical Legendaris Floyd" di album The Wall : Fucking top notch!

Importir European Power Metal 

Helloween dan Halloween adalah 2 band berbeda ><; sama-sama datang dari era 80-an. Helloween datang dari Hamburg. Halloween datang dari Detroit. Di bawah ini lagu dari Group Band Helloween - "Forever And One".
Penutup pada jam 11:11 wib. Diiringi oleh Ave Maria.
Album : Angelica / Lori Stinson - Steve vai - Eric Johnson
Anno : 1997
Menuju ke ranjang -- pulas !!
Condet, 08 Januari  2013

Kontemplasi Madu dan Racun

Oleh Irwan Firdaus

taklim II:

"Agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman yang tanpa roh. Ia adalah candu rakyat" (Karl Marx in introduction to the critique of Hegel's Philosophy, Oxford University; 1981).

Beberapa hari terakhir, ungkapan Karl Marx yang sangat populer di atas serasa terus menghantui pikiran. Tentu saja, hal ini tidak otomatis berarti saya adalah pengagum berat filsafat Marx. Tapi seandainya anda berada di sini bersama-sama kita menyaksikan tragedi demi tragedi yang telah meminta tumbal sekian ribu nyawa dan kemerdekaan manusia, mungkin anda akan digayuti keresahan yang sama.

Sebutlah tragedi : demonstrasi atas novel "Walîmah li A'syâbi al-Bahr" (Kenduri Rumput Laut) karya Haydar Haydar di Mesir. Tragedi yang disebutkan ini malah menjadi catatan sejarah yang amat khas, terutama bagi bangsa Mesir pada umumnya serta pemerintahan Mubarak khususnya.

Hari itu tanggal 9 Mei 2000, dini hari. Dalam gerombolan yang rapi dan menyemut, ribuan mahasiswa al-Azhar (yang asli Mesir) bergerak keluar dari asrama mereka. Angin malam yang bertiup cukup kencang tiada menyurutkan tekad mereka. Sebuah petaka, sebuah kenistaan harus dicegah: lewat seruan yang sangat heroik dan membuat bulu kuduk berdiri, mereka hendak menggagalkan niat kementerian budaya Mesir untuk menerbitkan novel "Kenduri Rumput Laut".

Bagi mereka, novel karangan Haydar Haydar tersebut memang memuat ide-ide yang haram diungkapkan. Ia tidak hanya menghina Nabi Muhammad Saw.--sebagaimana Salman Rushdie, tapi lebih dari itu juga dianggap telah melecehkan Sang Khâliq: Allâh Swt. Bisa jadi, tidak semua demonstran yang berbaris menyemut itu telah membaca novel Haydar. Namun bagaimanapun, atas nama kehormatan agama, perkara ini harus tetap diselesaikan dengan cara "yang selayaknya".

Ketika hari semakin terang, barisan para demonstran tampak membesar. Konon jumlah mereka lebih dari lima ribu orang. Jalanan utama Nasr City, Cairo, dibuatnya macet total. Kali ini, para mahasiswi pun riuh bergabung. "Dengan nyawa, dengan darah, akan kami pertahankan kehormatan agama!!!" demikian histeria mereka memenuhi langit Nasr City. Pemerintahan Mesir yang relatif 'kurang memiliki jam terbang' menghadapi demonstrasi besar semacam ini, tampak panik. Tak kurang dari lima puluhan truk penuh dengan prajurit militer dikerahkan. Gas air mata dan peluru karet pun dihamburkan secara membabi-buta.

Agaknya, bagi pemerintah Mesir, cara yang ditempuh oleh para mahasiswa(i) ini merupakan sebuah bentuk "promosi kekacauan umum". Karena itulah mereka harus ditindak tegas. Sebaliknya, di mata para demonstran, pemerintah dianggap telah membiarkan sebuah petaka dan kenistaan berlangsung. Itu sebabnya mereka menggelar "parlemen jalanan" yang dirasa sebagai sebuah cara yang lebih terhormat.

Dalam tragedi Haydar Haydar di atas: ada kekecewaan, ada sakit hati, serta ada dendam tergambarkan secara vulgar. Kita seolah-olah dipaksa untuk kehilangan batasan-batasan yang jelas antara penganiayaan dan pembelaan diri; antara dendam dan kehormatan. Ironisnya, seperti yang terjadi pada banyak tragedi memilukan lainnya, anarki-anarki tersebut dibungkus dalam kemasan nilai-nilai agama yang luhur dan penuh rahmat.

Bila kita amati lebih jauh lagi, sedikitnya terdapat tiga faktor mendasar yang memicu pertikaian 'atas nama' agama tersebut. Yaitu secara berurutan:  

Pertama

Kerancuan pemahaman mayoritas umat terhadap agama-agama yang dianutnya. Kerancuan ini tampaknya telah menjadi fenomena umum. Yakni, bahwa agama manapun --baik itu Islam, Kristen, dst.-- ternyata lebih dipandang sebagai simbol daripada sebagai sebuah al-dîn yang bersubstansikan keimanan. Dalam cara pandang semacam ini, agama menjadi tak lebih dari gugusan praktek jasmaniah dan ritus-ritus seperti sembahyang, nyanyian, puasa, semedi, upacara kematian, dst., yang kering akan nilai-nilai rohaniah.

Dampak yang kemudian harus kita tolerir adalah hilangnya kekuatan dan akses agama untuk menjadi penuntun dan control of life bagi para pemeluknya. Dalam konteks tersebut, Shalat -misalnya-- menjadi tak lagi mampu mencegah seorang muslim agar jangan sampai berbuat nista dan dosa. Sebagaimana firman Allâh Swt. "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar" (Qs. 29; 45). Dan begitu seterusnya dengan agama dan umat yang lain.

Kedua 

Keterikatan mayoritas umat terhadap agama yang dipeluknya ternyata cenderung didasari oleh ikatan emosional ketimbang ikatan keimanan. Relasi yang berkembang antara agama dan pemeluknya kemudian mengalami pergeseran dari tataran iman yang tumbuh secara organis dalam bingkai pengetahuan dan kesadaran yang utuh, menuju tataran fanatisme buta yang dilandasi oleh sentimen-sentimen serta emosi belaka.

Tataran yang disebutkan pertama, dapat dipastikan akan menuntun setiap umat beriman (apa pun agamanya) untuk bisa berpikir lebih jernih dan objektif dalam menyikapi setiap permasalahan yang berkembang, berdasarkan ajaran-ajaran agamanya. Mereka inilah yang kemudian memiliki keniscayaan untuk membumikan nilai-nilai luhur dan penuh rahmat dari masing-masing agama yang dianut. Sementara tataran yang kedua cenderung menjerumuskan umat pada cara-cara pandang yang serba subjektif, egois, emosional, bahkan anarkis. Dalam perspektif seperti inilah agama sebagai the way of life akan jatuh pada posisi terendahnya. Ia hanya menjadi simbol yang mati, statis, serta hampa akan muatan nilai-nilai luhur. Pada fase selanjutnya, agama pun bisa menjelma sebatas identitas diri yang amat sensitif dan rawan akan pertikaian. Na'ûdzubillâh!!

Ketiga 

Adanya aspek-aspek eksternal (di luar) hubungan antar umat beragama, yang seringkali direkayasa oleh kalangan elit kekuasaan tertentu agar bisa menciptakan bentrokan di lapisan grass root umat beragama; demi mewujudkan kepentingan mereka. Faktor ini dapat kita lihat dari merebaknya berita tentang adanya "tangan setan" para provokator dalam beberapa kasus kerusuhan antar umat beragama di daerah. Meskipun hanya sebatas rumor yang tak memiliki kekuatan hukum, sampai tingkatan tertentu hal tersebut perlu juga kita waspadai. Ibaratnya, seperti kata pepatah: "tak ada asap bila tak ada api".

Maka upaya penyelesaian dari pertikaian-pertikaian antar umat beragama, tidak hanya menghajatkan pemecahan keamanan semata. Penanganan keamanan oleh militer -itupun bila sunguh-sungguh- maksimal hanya menyentuh wilayah permukaan dari anatomi konflik ini secara integral. Begitu pengawasan keamanan kendor, besar kemungkinan pertikaian sejenis akan terulang kembali. Baik dalam skala yang persis sama dengan tragedi-tragedi yang pernah terjadi sebelumnya, atau bahkan dalam skala yang lebih besar dan meluas lagi.

Pada hakikatnya, penyelesaian pertikaian antar umat beragama memang lebih menghajatkan penanganan 'ke dalam'. Yakni, penanganan yang terfokus pada upaya peningkatan penghayatan setiap individu akan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam agamanya. Penanganan semacam ini memang kurang bersifat instant, tapi dijamin lebih kuat pengaruhnya dalam mewujudkan kerukunan yang hakiki antar umat beragama tersebut.

Sedikitnya, ada dua langkah yang bisa dilakukan dalam kerangka penanganan 'ke dalam' ini. Satu, mengubah cara pandang umat terhadap agama dari citra yang impersonal menuju citra yang personal. Dari sesuatu yang simbolistik menjadi sesuatu yang substantif. Karena, memang, hal yang paling esensial dari keberadaan suatu agama bukanlah penyelenggaraan ritus-ritus dan upacara praksis keagamaan lainnya; melainkan bagaimana nilai-nilai keluhuran, keadilan, kemanusiaan, rahmat dan kedamaian -yang notebene merupakan pesan pokok turunnya agama itu sendiri-bisa teraplikasi dalam keseharian para pemeluknya.

Dalam wawasan agama Islam misalnya, Allâh Swt. Berfirman:
"Dan bukanlah kebajikan itu memasuki rumah-rumah [kabah] dari pintu belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang-orang yang bertakwa " (Qs. 2; 189).

Agama bukanlah sekumpulan doktrin yang mati, statis, simbolis, ataupun utopis. Agama harus benar-benar dipahami sebagai kesatuan nilai-nilai tersebut di atas yang amat personal dan realistis. Sebab itulah penghayatan keagamaan yang baik bisa dilihat dari amal perbuatan, moralitas, serta praktek kehidupan sosial setiap umat.

Dua, mengembangkan dialog antar umat beragama. Sejauh ini, wacana dialog antar agama cenderung menjadi konsumsi kalangan elit umat beragama saja. Sementara pada tingkatan grass root umat, wacana ini relatif asing. Padahal, potensi konflik antar umat beragama justru menguat pada level akar rumput. Maka diperlukan pengembangan wacana dialog antar agama dengan lebih intens lagi melibatkan kalangan grass root umat.

Pada tahap awal, dialog tersebut bisa berupa kajian masing-masing umat terhadap ajaran agamanya tentang pesaudaraan, kemanusiaan, interaksi antar umat beragama, dst. Karena toh pada setiap agama itu terdapat nilai-nilai universal yang bisa menyatukan persepsi setiap pemeluk agama yang berbeda akan hubungan sosial yang sehat dan wajar. Dan pada tahapan berikutnya, umat dari agama yang berbeda tersebut bisa mulai membicarakan permasalahan yang mereka hadapi secara bersama-sama, dalam format "kita" semua berbicara tentang "kita". Bukan lagi dalam format "kami" berbicara tentang "kalian".

Demikianlah, kita patut bersyukur bahwa pemerintah tampak semakin serius menangani konflik antar umat beragama ini. Indikasi yang paling gres adalah dengan diberlakukannya keadaan darurat sipil. Namun, seperti telah dipaparkan di muka, penanganan keamanan semacam ini hanya bersifat jangka pendek dan temporer belaka. Perlu penanganan yang lebih holistik, substansial, dan secara efektif bisa menyelesaikan persoalan hingga ke akar-akarnya. Salah satu bentuknya adalah dengan melakukan revitalisasi penghayatan umat terhadap ajaran-ajaran agamanya sebagai sebuah kesatuan nilai-nilai luhur dan moralitas yang dinamis.

Sebab bila hal ini tidak dilakukan, dan anarkisme 'atas nama' agama terus-menerus berlanjut, betapa dengan segenap kegetiran kita harus menerima kata-kata Marx bahwa agama itu adalah candu. Bahkan mungkin racun yang akan menghancurkan kehidupan para pemeluknya.

Sumber :
Riset/Teks/Irf Blog.
Karl Marx in introduction to the critique of Hegel's Philosophy, Oxford University; 1981
al-Qur'an
Kompas 

M.A.W. Brouwer

Oleh Irwan Firdaus

M.A.W. Brouwer

Born    : May 14, 1923 in Delft, Netherlands
Died     : August 19, 1991
Gender : male
Martinus Antonius Weselinus Brouwer atau dikenal dengan M.A.W Brouwer (lahir 14 Mei 1923 – meninggal 19 Agustus 1991 pada umur 68 tahun) lahir di Delft dan meninggal di negeri Belanda adalah seorang fenomenolog, psikolog, budayawan yang sangat dikenal karena kolom-kolomnya yang tajam, sarkastik dan humoris di berbagai media masa di Indonesia terutama pada era tahun 70-an sampai 80-an. Brouwer menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Indonesia dan harus kembali ke negeri Belanda dan kemudian meninggal di sana oleh karena permohonannya untuk menjadi Warga Negara Indonesia tidak dikabulkan. Menamatkan sarjana pada Fakultas Paedagogi Universitas Indonesia pada tahun 1961 kemudian menjadi guru di Sukabumi serta sebagai pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran dan Universitas Parahyangan yang turut mewarnai pengembangan ilmu Psikologi di Indonesia.

"Saya tahu tulisan beliau tentang orang Sunda ketika dulu tinggal di Bandung (1996 - 2001). Walau katanya buku ini ditulis oleh alm. M.A.W. Brouwer, tapi isinya tetap masih relevan. Saya bisa mengikuti perjalanan spiritual beliau dari Bandung ke Siberia tanpa perlu beranjak dari tempat tidur".

Di dalam bukunya, "Perjalanan Spiritual" : dari gumujeng Sunda, eksistensi Tuhan, sampai Siberia:

2). orang Sunda suka tertawa dan tidak begitu cepat ambil pusing. Bahasa mereka sangat baik dan berbunyi musikal sekali. Karena sawah sangat subur, mereka mempunyai jiwa tani yang bijaksana, dan kalau di luar sering ada huru-hara, di Jabar keadaan biasanya tenang.
"Ternyata benar ketika terjadi huru-hara di Jakarta tahun 1998; di Bandung tetap tenang, malah hari-hari itu aku isi dengan diskusi bersama wartawan, budayawan, seniman, pengamen jalanan, sampai ke penggiat teater, dst"
Tuhan menciptakan bumi Sunda di saat sedang gembira (senyum); bukan hanya daerahnya (Parahyangan) tetapi juga bangsa Sunda.

Adat istiadat Sunda kaya sekali, seperti dibuktikan di Leiden dalam tesis seorang doktor muda Sunda dalam bukunya "Ngabersihan" (Leiden, 1975)

(3) kalau orang Sumut boleh diperbandingkan dengan orang Jerman, dan orang Padang dengan Inggris, boleh dikatakan orang Sunda serupa orang Prancis. Mereka sudah merelatifkan dunia, diri, dan surga serta selalu mencari segi humor dari apa saja yang dibicarakan. 80% dari tingkah laku anak-anak kita di sekolah adalah tertawa.

Bukan tertawa yang bodoh dari orang dusun yang tidak mengerti adanya juga orang lain di dunia, tetapi tertawa halus yang sering mulai dengan 'gumujeng Sunda', dan dalam intimitas, Sunda dengan Sunda bisa terjadi tertawa betul. (Bab 1 - Bandung).

(17). Mendidik tidak berarti memberi nasihat, menghukum atau berkhotbah. Apakah mendidik? Untuk mengerti hal itu, kami harus melihat siapa yang mendidik dan siapa yang dididik. Yang mendidik adalah orangtua, kakak2, dan aki-nini yang bersama2 menjadi lingkungan pendidikan dengan suasana yang baik atau buruk.

Siapa yang dididik? Anak memang. "they are acute observers". Mereka tidak buta dan melihat segala hal dengan baik. Tepat dikatakan 'panci kecil ada telinga besar'. Anak mendengar dan melihat dengan teliti dan sangat sukar ditipu.

They are acute imitators. Anak melihat hal yang dilihat dan didengar. anak laki dan perempuan menjadi besar dalam suatu suasana. Suasana itu ialah tingkah laku orangtua; cara bercakap, cara makan, dan cara bergerak.

Memberi contoh dan meniru contoh ialah proses dari pendidikan. Bukan pemberian khotbah atau nasihat.

Bukan guru tapi orangtua ialah pendidik anaknya. (Bab 3 - Hongkong).

(63). Arsitektur Islam adalah yang paling kaya di dunia, kata Sanchez, ada 5 kelompok corak: corak Syro-Mesir, Morisco, arsitektur Persia, Turki dan Islam-India dari India. Sukar dikatakan mana yang lebih mulia. (Bab 10 - Granada)

Sumber Rujukan :
Perjalanan Spiritual - dari gumujeng Sunda, eksistensi Tuhan, sampai Siberia,
Jakarta : Penerbit Buku Kompas, [2003].

irfblog. Diberdayakan oleh Blogger.