Popular Posts

Kamis, 05 Agustus 2010

Si Vis Pacem, Para Bellum!

Di salah satu media online Malaysia, The New Strait Times, Anifah Aman menyatakan kesabaran Malaysia nyaris habis melihat aksi demonstran Indonesia yang menginjak-injak bendera Malaysia. Apalagi, kala itu massa juga melempar kotoran manusia ke kantor yang berlokasi di Jalan HR Rasuna Said itu. (baca : Pernyataan Menlu Malaysia Sangat Provokatif)

Tapi apa tanggapan Presiden mengenai pernyataan dari Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Anifah Amin:
Ada sekitar (2) juta saudara-saudara kita yang bekerja di Malaysia – di perusahaan, di pertanian, dan di berbagai lapangan pekerjaan. Ini adalah jumlah tenaga kerja Indonesia yang terbesar di luar negeri. Tentu saja keberadaan tenaga kerja Indonesia di Malaysia membawa keuntungan bersama, baik bagi Indonesia maupun Malaysia. Investasi Malaysia di Indonesia 5 tahun terakhir (2005-2009) adalah 285 proyek investasi, berjumlah US$ 1.2 miliar, dan investasi Indonesia di Malaysia berjumlah US$ 534 juta. Jumlah perdagangan kedua negara telah mencapai US$ 11,4 Miliar pada tahun 2009.

Hal ini menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia – Malaysia sungguh kuat. Sementara itu, sekitar 13,000 pelajar dan mahasiswa Indonesia belajar di Malaysia, dan 6,000 mahasiswa Malaysia belajar di Indonesia. Ini merupakan asset bangsa yang harus terus kita bina bersama, dan juga modal kemitraan di masa depan. Wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Indonesia adalah ketiga terbesar dengan jumlah 1,18 juta orang, dari total 6,3 juta wisatawan mancanegara. (baca : Pidato Presiden SBY Soal Malaysia)

Kalau boleh saya berpendapat sebetulnya bukan masalah suka dan tidak suka atas pidato Presiden. Tetapi saya melihatnya disini sebagai langkah strategi yang tidak diperuntukan untuk menghindari perang. "Tinggal menunggu siapa yang ingin terlebih dahulu memulai!!!"

Kalau memang benar pernyataan Pemerintah Malaysia itu menyatakan telah hilang kesabarannya kepada bangsa Indonesia. Kenapa tidak ditindaklanjuti saja dengan tindakan yang semestinya diinginkan oleh pihak Kementerian Di Raja Malaysia.

Kita menunggu dengan membeli pesawat tempur Sukhoi dari Rusia. Kita menunggu dengan kekuatan Hankamrata (Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta).

Sekilas Catatan Sejarah Tentang Semangat Wajib Militer :

Saat beban hidup makin berat menimpa Hitler, Perang Dunia I pun pecah. Hitler yang sebelumnya menolak masuk wajib militer Austria, justru antusias mendaftar ke dalam dinas kemiliteran. Dia yang saat itu lari ke Munich, Jerman untuk menghindari wajib militer Austria bahkan menulis petisi kepada Raja Ludwig III Bavaria untuk diperkenankan masuk ke Ketentaraan Bavaria.

Bukan tidak mungkin 2 juta TKI yang ada di Malaysia nantinya di kerahkan untuk wajib militer. Karena telah di atur dalam UUD 1945, Pasal 30 ayat 2, bahwa kewajiban bagi setiap warga negara untuk membela Negara.

0 komentar

Banner

Kajian.Net

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
irfblog. Diberdayakan oleh Blogger.