Haji Misbach, lengkapnya
Haji Mohamad Misbach, punya
posisi unik dalam sejarah di Tanah Air. Namanya memang tidak
sedahsyat Semaun, Tan Malaka, atau tokoh kiri lainnya. Di
kalangan gerakan Islam, namanya juga hampir tidak pernah
disebut. Maklum, haji dari Kauman Surakarta ini adalah
seorang komunis, meski menolak menjadi ateis. Baginya, Islam
dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan. Malah
dengan menyerap ajaran komunismelah, menurut Haji Misbach,
Islam menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan
dan ketidakadilan. Berikut tulisan
Iqbal Setyarso, yang
diolah dari berbagai sumber antara lain yang terpenting An
Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926, karya
Takashi Shiraisi.
Inilah datangnya hari-hari mencekam di Hindia Belanda.
Pada 1923 itu, ijazah-ijazah sekolah bumiputera "Ongko Loro"
(Angka Dua) dibakar. Ketika gubernur jenderal datang ke
Yogyakarta (Mei) bom dilemparkan ke kereta api. Banyak orang
jadi berani melemparkan kotoran ke kantor-kantor pemerintah,
mencopoti potret-potret Ratu Wilhelmina, melumurinya dengan
kotoran dan kalimat celaan.
Kejadian seperti itu meningkat menjelang peringatan Ratu
Wilhelmina akhir Agustus dan awal September. Di Yogya, pada
Juli ada kereta api tergelincir dari relnya. Di Madiun,
akhir Agustus seorang aktivis Sarekat Ra'jat (SR) dan bekas
buruh kereta api negara terbunuh, sejumlah lainnya terluka
ketika bom buatan mereka tiba-tiba meledak. Di Semarang,
sejak akhir Agustus hingga awal September ada delapan bom
telah dilemparkan. Maka di Madiun, pemimpin SR dan guru-guru
Sarekat Islam (SI) ditangkapi. Namun, di tempat-tempat lain
polisi tak berdaya, tak seorang pun ditangkap
Di Surakarta, pertengahan Oktober 1923, menjelang dan
sesudah perayaan Sekaten, sejumlah rumah dibakar. Bangsal
perayaan sekatenan dirobohkan orang. Di pedesaan, tempat
pengeringan tembakau dibakar. Polisi seolah-olah tak
berkutik. Dan lagi-lagi, tak ada satu tersangka pun yang
ditangkap.
Darma Kanda, media yang menyuarakan aspirasi kaum ningrat
mengingatkan bahaya "zaman Tjipto" (Tjipto Mangunkusumo).
Para pangeran kasunanan dan pejabat tinggi ketakutan pada
"komunis-komunis" dan menebar cerita. Haji Mohamad Misbach
berada di balik serangkaian kejadian itu. Misbach
disebut-sebut telah membangun "pasukan sabotase", melatih
prajurit untuk melakukan pengeboman, pembakaran rumah,
perampokan, penggelinciran kereta api, dan aksi teror
lainnya. Pada awal Oktober pamflet stensilan dengan simbol
palu dan arit di atas gambar tengkorak manusia
disebarluaskan orang-orang tak dikenal. Pamflet itu isinya
mengingatkan orang agar tidak menghadiri perayaan sekaten.
Siapa Misbach yang dicap begitu berbahaya itu?
Keislaman dan Kerakyatan
Lelaki ini lahir di Kauman, Surakarta. Diduga ia lahir
pada 1876 dan besar di lingkungan keluarga pedagang batik
yang makmur. Masa kecilnya ia dipanggil Ahmad. Saat menikah
berganti nama menjadi Darmodiprono. Setelah menunaikan
ibadah haji, orang mengenalnya sebagai Haji Mohamad Misbach.
Kauman, tempat Misbach dilahirkan, letaknya di sisi barat
alun-alun utara, persis di depan keraton Kasunanan dekat
Masjid Agung. Di situ tinggal juga para pejabat keagamaan
Sunan. Ayah Misbach sendiri pejabat keagamaan. Namun karena
lingkungannya religius, Misbach pun pada usia sekolah
mengisi wawasannya dengan pelajaran keagamaan dari
pesantren. Selain belajar di pesantren, Misbach pernah
belajar di sekolah bumiputera "Ongko Loro" selama delapan
bulan.
Menjelang dewasa, Misbach terjun ke dunia usaha sebagai
pedagang batik di Kauman mengikuti jejak bapaknya. Bisnisnya
pun menanjak dan ia berhasil membuka rumah pembatikan dan
sukses. Pada 1912 di Surakarta berdiri Sarekat Islam (SI).
Misbach masuk SI meski selama setahun pertama perjalanan SI
ia tidak terlalu aktif. Misbach baru aktif pada 1914, ketika
SI membentuk Indlandsche Journalisten Bond (IJB). Melalui
media massa, Misbach dinilai sebagai tokoh yang rajin
memaparkan gagasannya. Dia tak kenal lelah meluncurkan
gagasan menerbitkan surat kabar Islam, sekolah-sekolah
Islam, dan gagasan pengembangan Islam yang sangat maju untuk
ukuran zamannya.
Pada 1915, Misbach menerbitkan Medan Moeslimin, surat
kabar bulanan. Dua tahun kemudian diterbitkannya pula Islam
Bergerak. Bicara kepribadian Misbach, orang memuji
keramahannya kepada setiap orang dan sikap egaliternya tak
membedakan priyayi atau orang kebanyakan. Sebagai seorang
haji ia lebih suka mengenakan kain kepala ala Jawa ketimbang
peci Turki alias torbus ala Haji Agus Salim, atau sorban
seperti kebanyakan haji zaman itu.
Orang menggambarkan Haji Misbach sebagai sosok yang tak
segan bergaul dengan anak-anak muda penikmat klenengan
dengan tembang-tembang yang sedang hit. Satu tulisan tentang
Misbach menyebutkan, di tengah komunitas pemuda, Misbach
menjadi kawan berbincang yang enak, sementara di tengah
pecandu wayang orang Misbach lebih dihormati ketimbang
direktur wayang orang. Misbach digambarkan demikian, "...
di
mana-mana golongan Ra'jat, Misbach mempoenjai kawan oentoek
melakoekan pergerakannya. Tetapi didalem kalangannya
orang-orang jang mengakoe Islam dan lebih mementingkan mengoempoelken harta benda daripada menolong kesoesahan
Ra'jat, Misbach seperti harimau didalem kalangannya
binatang-binatang ketjil. Kerna dia tidak takoet lagi
menyela kelakoeannja orang-orang yang sama mengakoe Islam
tetapi selaloe mengisep darah temen hidoep bersama."
Tentara Tjokro
Takashi Shiraisi mengungkapkan perbedaan dinamika sosial
Islam di Yogya dan Surakarta. Ini dikaitkan dengan persamaan
dan perbedaan antara KH Achmad Dahlan yang pendiri
Muhammadiyah dan Misbach, seorang muslim ortodoks yang
saleh, progresif, dan hidup di kota Surakarta.
Di Yogya, Muhammadiyah yang lahir pada 1912 di Kauman,
segera menjadi sentral kegiatan kaum muslimin yang saleh
yang kebanyakan berlatar belakang keluarga pegawai keagamaan
Sultan. Ayah Dahlan adalah chatib amin Masjid Agung dan
ibunya putri penghulu (pegawai keagamaan kesultanan) di
Yogya. Dahlan sendiri sempat dipercaya menjadi chatib amin.
Para penganjur Muhammadiyah pun umumnya anak-anak pegawai
keagamaan. Kala itu birokrat keagamaan umumnya adalah alat
negara sehingga, kata Shiraisi, wewenang keagamaannya tidak
berasal dari kedalaman pengetahuan tentang Islam tetapi
karena jabatannya. Meskipun mereka berhaji dan belajar
Islam, masih kalah wibawa dibandingkan para kiai yang
pesantrennya bebas dari negara.
Kendati demikian, reformisme Muhammadiyah berhasil
menyatukan umat Islam yang terserpih-serpih.
Tablig-tablignya, kajian ayat yang dijelaskan dengan
membacakan dan menjelaskan maknanya di masjid-masjid,
pendirian lembaga pendidikan Islam, membangunkan keterlenaan
umat Islam. Mereka tumbuh menjadi pesaing tangguh misionaris
Kristen dan aktivis sekolah-sekolah bumiputera yang
didirikan pemerintah.
Lain dengan di Surakarta. Kala itu belum ada pengaruh
sekuat Dahlan dan Muhammadiyah. Ini karena di Surakarta
sudah ada sekolah agama modern pertama di Jawa, Madrasah
Mamba'ul Ulum yang didirikan patih R. Adipati Sosrodiningrat
(1906) dan SI pun sudah lebih dulu berkiprah sebagai wadah
aktivis pergerakan Islam. Di Surakarta, pegawai keagamaan
yang progresif, kiai, guru-guru Al-Quran, dan para pedagang
batik mempunyai forum yang berwibawa, Medan Moeslimin. Di
situlah pendapat mereka yang kerap berbeda satu sama lain
tersalur. Kelompok ini menyebut diri "kaum muda Islam".
Beda pergerakan Islam Surakarta dan Yogya, di Yogya
reformis tentu juga modernis, tetapi di Surakarta kaum muda
Islam memang modernis tetapi belum tentu reformis. Kegiatan
keislaman di Solo banyak dipengaruhi kiai progresif tapi
ortodoks, seperti Kiai Arfah dan KH Adnan. Sampai suatu
ketika ortodoksi yang cenderung menghindar ijtihad itu
terpecah pada 1918.
Perpecahan kelompok Islam di Surakarta dipicu artikel
yang dimuat dalam Djawi Hiswara, ditulis Martodharsono,
seorang guru terkenal dan mantan pemimpin SI. Ketika artikel
itu muncul di Surakarta tidak langsung terjadi protes,
tetapi Tjokroaminoto memperluas isi artikel dan menyerukan
pembelaan Islam atas pelecehan oleh Martodharsono. Seruan
itu muncul di Oetoesan Hindia, sehingga bangkitlah kaum muda
Islam Surakarta.
Tjokroaminoto membentuk Tentara Kanjeng Nabi Muhammad
(TKNM), yang mencuatkan nama Misbach sebagai mubalig vokal.
Mengiringi terbentuknya TKNM, lahir perkumpulan tablig yang
reformis bernama Sidik, Amanah, Tableg, Vatonah (SATV). Haji
Misbach menyebar seruan tertulis menyerang Martodharsono
serta mendorong terlaksananya rapat umum dan membentuk
sub-komite TKNM. Segeralah beredar cerita, Misbach akan
berhadapan dengan Martodharsono di podium. Komunitas yang
dulunya kurang greget menyikapi keadaan itu tiba-tiba
menjadi dinamis. Kaum muslimin Surakarta berbondong-bondong
menghadiri rapat umum di lapangan Sriwedari, pada 24
Februari 1918 yang konon dihadiri 20.000-an orang.
Tjokroaminoto mengirim Haji Hasan bin Semit dan Sosrosoedewo
(penerbit dan redaktur jurnal Islam Surabaya, Sinar Islam),
dua orang ke-percayaannya di TKNM.
Waktu itu terhimpun sejumlah dana untuk pengembangan
organisasi ini. Muslimin Surakarta bergerak proaktif menjaga
wibawa Islam terhadap setiap upaya penghinaan terhadapnya.
Inilah awal perang membela Islam dari "kaum putihan"
Surakarta. Belakangan, muncul kekecewaan jamaah TKNM ketika
Tjokro tiba-tiba saja mengendurkan perlawanan kepada
Martodharsono dan Djawi Hiswara setelah mencuatnya
pertikaian menyangkut soal keuangan dengan H Hasan bin
Semit. Buntutnya, Hasan bin Semit keluar dari TKNM. Beredar
artikel menyerang petinggi TKNM. Muncul statemen seperti
"korupsi di TKNM dianggap sudah menodai Nabi dan Islam".
Dalam situasi itu muncul Misbach menggantikan
Hisamzaijni, ketua sub-komite TKNM dan menjadi
hoofdredacteur
(pemimpin redaksi) Medan Moeslimin. Artikel pertama Misbach
di media ini, Seroean Kita. Dalam artikel itu Misbach
menyajikan gaya penulisan yang khas, yang kata Takashi,
menulis seperti berbicara dalam forum tablig. Ia
mengungkapkan pendapatnya, bergerak masuk ke dalam kutipan
Al-Quran kemudian keluar lagi dari ayat itu. "Persis seperti
membaca, menerjemahkan, dan menerangkan arti ayat Al-Quran
dalam pertemuan tablig."
Sikap Misbach ini segera menjadi tren, apalagi kemudian
secara kelembagaan perkumpulan tablig SATV benar-benar eksis
melibatkan para pedagang batik dan generasi santri yang
lebih muda. Menurut Shiraisi, ada dua perbedaan SATV
dibanding Muhammadiyah. Pertama, Muhammadiyah menempati
posisi strategis di tengah masyarakat keagamaan Yogya,
sedangkan SATV adalah perhimpunan muslimin saleh yang merasa
dikhianati oleh kekuasaan keagamaan, manipulasi pemerintah,
dan para kapitalis non-muslim. Kedua, militansi para
penganjur Muhammadiyah bergerak atas dasar keyakinan bahwa
bekerja di Muhammadiyah berarti hidup menjadi muslim sejati.
Sedangkan militansi SATV berasal dari rasa takut untuk
melakukan manipulasi, dan keinginan kuat membuktikan
keislamannya dengan tindakan nyata. Di mata pengikut SATV,
muslim mana pun yang perbuatannya mengkhianati kata-katanya
berarti muslim gadungan.
SATV menyerang para elite pemimpin TKNM, kekuasaan
keagamaan di Surakarta, menyebut mereka bukan Islam sejati,
tetapi "Islam lamisan", "kaum terpelajar yang berkata mana
yang bijaksana yang menjilat hanya untuk menyelamatkan
namanya sendiri." Dasar keyakinan SATV dengan Misbach
sebagai ideologinya, "membuat agama Islam bergerak". Misbach
kondang di tengah muslimin bukan sekadar karena tablignya,
melainkan ia menjadi pelaku dari kata-kata keras yang
dilontarkannya di berbagai kesempatan. Ia dikenal luas
karena perbuatannya "menggerakkan Islam": menggelar tablig,
menerbitkan jurnal, mendirikan sekolah, dan menentang keras
penyakit hidup boros dan bermewah-mewah, dan semua bentuk
penghisapan dan penindasan.
Membuat Kartun
Misbach sangat antikapitalis. Siapa yang secara kuat
diyakini menjadi antek kapitalis yang menyengsarakan rakyat
akan dihadapinya melalui artikel di Medan Moeslimin atau
Islam Bergerak. Tak peduli apakah dia juga seorang aktivis
organisasi Islam. Berdamai dengan pemerintah Hindia Belanda,
no way. Maka kelompok yang antipolitik, antipemogokan,
secara tegas dianggap berseberangan dengan misi keadilan.
Misbach membuat kartun di Islam Bergerak edisi 20 April
1919. Isinya menohok kapitalis Belanda yang menghisap
petani, bersama mempekerjapaksakan mereka, memberi upah
kecil, menarik pajak. Residen Surakarta digugat, Paku Buwono
X digugat karena ikut-ikutan menindas. Retorika khas
Misbach, muncul dalam kartun itu sebagai "suara dari luar
dunia petani". Bunyinya, "Jangan takut, jangan kawatir".
Kalimat ini memicu kesadaran dan keberanian petani untuk
mogok. Ekstremitas sikap Misbach membuat ia ditangkap, 7 Mei
1919, setelah melakukan belasan pertemuan
kring (sub-kelompok
petani perkebunan). Tapi akhirnya Misbach dibebaskan pada 22
Oktober sebagai kemenangan penting Sarekat Hindia (SH),
organisasi para bumiputera.
Tidak kapok dipenjara, Misbach malah menegaskan rakyat
"jangan takut dihukum, dibuang, digantung", seraya
memaparkan kesulitan Nabi menyiarkan Islam. Misbach pun
sosok yang selain menempatkan diri dalam perjuangan melawan
kapitalis, ia meyakini paham komunis.
Menurut ahli sejarah
Ahmad Mansyur Suryanegara, Misbach mengagumi Karl Marx dan
menulis artikel Islamisme dan Komunisme di pengasingan. Marx
di mata Misbach berjasa membela rakyat miskin, mencela
kapitalisme sebagai biang kehancuran nilai-nilai
kemanusiaan. Agama pun dirusak oleh kapitalisme sehingga
kapitalisme harus dilawan dengan historis materialisme.
Misbach kecewa terhadap lembaga-lembaga Islam yang tidak
tegas membela kaum dhuafa. Berjuang melawan kapitalisme tak
membuat Misbach tidak menegakkan Islam. Baginya, perlawanan
terhadap kapitalis dan pengikutnya sama dengan berjuang
melawan setan. Misbach pun ketika CSI (Central Sarekat
Islam) pecah melahirkan PKI/SI Merah, memilih ikut
Perserikatan Kommunist di Indie (PKI), bahkan mendirikan PKI
afdeling Surakarta.
Terkait dengan "teror-teror" yang terjadi di Jawa,
Misbach tetap dipercaya sebagai otaknya. Misbach ditangkap.
Dalam pengusutan sejumlah fakta memberatkan kepada Misbach
meskipun belakangan para saksi mengaku memberi kesaksian
palsu karena iming-iming bayaran dari Hardjosumarto, orang
yang "ditangkap" bersama Misbach. Hardjosumarto sendiri juga
mengaku menyebarkan pamflet bergambar palu arit dan
tengkorak, membakar bangsal sekatenan, dan mengebom
Mangkunegaran.
Meski demikian, Misbach tetap tidak dibebaskan. Dia
dibuang ke Manokwari, Papua, didampingi istri dan tiga
anaknya. Selama ditahan di Semarang, tak seorang pun
diizinkan menjenguknya. Misbach hanya dibolehkan membaca
Al-Quran. Di pengasingan, selain mengirim laporan
perjalanannya, Misbach juga menyusun artikel berseri
"Islamisme dan Komunisme". Sesungguhnya, tulis Misbach,
karangan saya hal komunisme dan islamisme adalah penting
bagi orang yang dirinya mengaku Islam dan komunis yang
sejati, yakni suka menjalankan apa yang telah diwajibkan
kepada mereka oleh agama dan komunis.
Medan Moeslimin yang terbit pada 1 April 1926 memuat
artikel Misbach, Nasehat, yang antara lain menyatakan:
agama
berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang
pergaulan hidup, tinggi, dan hinanya manusia hanya tergantung
atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi tiga bagian: budi
kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan
dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang
hanya mengejar keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan
budi setan yang selalu berbuat kerusakan dan keselamatan
umum.
Ini secuil kisah Misbach yang sangat jarang dibicarakan
orang. "Kiai Merah" yang tetap taat berislam ini akhirnya
terserang malaria dan meninggal di pengasingan pada 24 Mei
1926 dan dimakamkan di kuburan Penindi, Manokwari, di
samping kuburan istrinya.
Tulisan ini diambil dari majalah Panji Masyarakat, No. 09
Tahun IV - 21 Juni 2000.