Popular Posts

irfblogBacklink






Rating for erosisland.blogspot.com

My Ping in TotalPing.com

desain 1

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

desain 2

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

desain 3

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

desain 4

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

desain 5

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

Selasa, 08 Januari 2013

Si Pitung

oleh Irwan Firdaus

Kisah si Pitung sangat melegenda bagi masyarakat Indonesia terutama bagi masyarakat Betawi. Bagi masyarakat Betawi, Pitung adalah pahlawan. Ia hidup di abad 19, warga Rawabelong, dengan ayahnya, Piun, asal Cirebon dan ibunya, Pinah, dari Betawi. Si Pitung menjadi terkenal bukan hanya karena keberaniannya melawan Belanda, tapi juga kepeduliannya terhadap nasib rakyat yang tertindas oleh kekuasaan Belanda dan tuan tanah. “Saat itu, kehidupan sosial masyarakat sangat tidak manusiawi. Para tuan tanah tak segan-segan meminta pajak yang tinggi kepada para petani.  Bila para petani tidak bisa segera membayar pajak sesuai dengan jatuhnya tempo, maka para begundal tuan tanah itu akan memaksa para petani tersebut dengan cara-cara kasar. Nah dalam situasi seperti itu, munculah Si Pitung,” kata Alwi Shahab, penulis novel Pitung, Robin Hood Betawi.
 
Dalam perjalanannya, Si Pitung tidak hanya melindungi rakyat dari para begundal (pendekar bayaran) para tuan tanah, tapi juga merampok harta kekayaan mereka, kemudian membagikannya kepada rakyat kecil. Terhadap sepak terjang Si Pitung ini, tidak hanya tuan tanah yang tidak tenang, tapi juga Belanda. “Jakarta tidak aman. Akhirnya Belanda menurunkan Schout van Hinne, kepala kepolisian untuk menangkap Si Pitung,” lanjutnya.

SEBAGAI seorang buron, Pitung tidak memiliki tempat menetap yang pasti. Konon, ia pernah tinggal di Kota Depok, tepatnya di salah satu gedung milik bangsawan asal Belanda, Cornelis Chastelein. Warga Depok lebih sering menyebut gedung tersebut sebagai rumah tua Pondok Cina, karena letaknya yang berada di Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji.

Sayangnya, bangunan tua yang berada di Jalan Margonda Raya tersebut sudah tidak ada. Gedung yang menjadi saksi sejarah Kota Depok tersebut sudah terkepung oleh sebuah mal supermegah bernama Margonda City. Memang, projek pembangunan Margonda City tidak sampai menggusur gedung tersebut. Meski begitu, fungsi bangunan sudah berubah menjadi sebuah kafe.

Cerita lainnya, Pitung juga pernah tinggal di Kampung Marunda, baik di Masjid Al Alam atau di rumah joglo kampung Marunda Pulo.

Banyak versi tentang hubungan Pitung dengan masjid Al Alam. Ada yang mengatakan bahwa Masjid Al Alam merupakan tempat bermain Pitung, belajar agama, belajar pukulan sampai sembunyi dari opas dan kompeni. Tapi ada juga yang mengatakan bila Pitung hanya singgah sebentar di Masjid Al Alam untuk mendirikan sholat. Dua pendapat ini menjadi tidak kuat karena tidak ada bukti fisik yang bisa menjelaskan keberadaan Pitung di Masjid tersebut, kecuali pemahaman masyarakat sekitar bahwa Pitung pernah berada di Masjid itu. Selain Masjid Al Alam, pitung juga pernah menjejakkan kakinya di kampung Marunda Pulo, tepatnya di rumah berbentuk joglo yang terletak sekira 250 m di sebelah selatan masjid Al Alam. Seperti halnya dengan Masjid Al Alam, beragam pendapat menjelaskan hubungan Pitung dengan rumah joglo ini. Ada yang mengatakan bahwa rumah itu milik Pitung, tapi juga ada pendapat yang menjelaskan bahwa rumah itu milik orang kaya yang pernah disatroni Pitung dan para pengikutnya. “Pihak museum mengklaim itu milik si Pitung. Padahal sesungguhnya itu milik orang kaya Marunda dan pernah digarong sama Pitung,” kata M Sambo bin Ishak, wakil ketua Pengurus Masjid Al Alam.

Bukan Asli

RUMAH panggung itu awalnya dibangun tiga kamar, tetapi kemudian dua di antaranya dibongkar sehingga tinggal satu kamar, tanpa perabot. Panjangnya 15 meter dan lebar lima meter. Di bagian tengahnya ada tambahan sayap di kiri-kanan, masing-masing 1,5 meter. Semuanya terbuat dari papan kayu jati, dan beberapa bagian ada besi, seperti jeruji jendela dan penyangga atap.

Tiang penopang bangunan ada 40 buah, tingginya dua meter, tinggi bangunan juga dua meter. Karena bentuknya seperti itu, ruangannya pun tampak pendek, apalagi kalau melewati pintu, pengunjung harus merunduk.

Lantai dari papan kayu jati, sebagian masih baru. Ada sepuluh jendela yang berdaun pintu dan berjeruji, sedang dua lainnya tanpa jeruji dan daun. Siang hari jendela itu selalu dibuka. Di rumah itulah si jawara Betawi tinggal selama beberapa tahun setelah dikejar-kejar Belanda hingga akhirnya ditangkap, mati dan konon dikuburkan di Pejagalan.

Kalau air laut pasang, pekarangan dan bagian kolong rumah tergenang air laut hingga 50 cm. Cat bangunan rumah yang merah darah sudah memudar.

H Atit Fauzi, tokoh Marunda Pulo, pernah mengatakan bahwa rumah Pitung itu bukan bangunan aslinya, kecuali lokasi tempat rumah itu dibangun. Rumah aslinya dahulu milik juragan nelayan sero, yakni Haji Syafiuddin.

Jika Anda penggila kisah-kisah jampang Betawi tempo dulu, rasanya belum pas kalau belum menengok Masjid Al-Alam atau lebih kesohor disebut Masjid Si Pitung ini. Bayangkanlah, sebelum menjadi "Robin Hood" Betawi, Pitung kecil disebutkan banyak menghabiskan waktu bermainnya di masjid ini. Belajar agama, belajar 'pukulan' sampai sembunyi dari opas dan kompeni, juga di masjid ini. Tapi jangan salah, bukan Si Pitung atau keluarganya yang membangun masjid ini. Masjid yang terletak persis di tepi Pantai Marunda Pulo, Kelurahan Cilincing ini diperkirakan dibangun pada tahun 1600-an. Meski telah berusia 400 tahun, uniknya masjid ini cukup terawat dengan baik walau kondisi ketuaannya tak bisa disembunyikan. Arsitekturnya mengingatkan pada model Masjid Demak, namun berskala lebih mini-ukuran 10x10 m2. Atapnya yang berbentuk joglo ditopang oleh 4 pilar bulat "kuntet," seperti kaki bidak catur. Mihrab yang pas dengan ukuran badan menjorok ke dalam tembok, berada di sebelah kanan mimbar. Berbeda dengan masjid tua lain, uniknya masjid ini berplafon setinggi 2 meter dari lantai dalam.

Terpeliharanya Masjid Al-Alam tak lepas dari bentuknya yang relatif kecil menyerupai mushola. Selain itu, hingga kini pun masjid ini begitu amat dicintai oleh penduduk sekitarnya. Hampir di setiap waktu-waktu sholat, terutama Maghrib, dan 'Isya, Masjid Al-Alam selalu diramaikan jamaahnya. Bukan cuma itu, kelihatannya masjid ini sering didatangi para peziarah pula. Hal ini terlihat dengan dibangunnya sebuah pendopo persis di belakang masjid, sebelah timur yang terkesan sengaja dihadirkan untuk upacara-upacara khusus.

Tidak diketahui pasti siapa pendiri masjid ini, minimnya data sama halnya dengan ketidaktahuan masyarakat sekitar masjid. Bahkan tokoh masyarakat di sekitar rumah tinggal Si Pitung sekalipun. Yang diketahui oleh H. Atit, salah seorang pengurus masjid, bahwa orang-orang sekitar menyebut masjid ini dengan sebutan Masjid Gaib. Dari dongeng turun-temurun, disebutkan dalam proses pembuatannya dahulu, masjid ini dibangun hanya dalam tempo sehari semalam saja. Tapi ditambahkan oleh H. Atit, hal itu dimungkinkan, karena sebelum masjid ini ada, pasukan dan rombongan Pangeran Fatahillah datang ke Marunda sesaat setelah menang perang dengan Portugis di Sunda Kelapa.

Sejak tahun 1975 Masjid Al-Alam dinyatakan sebagai cagar budaya. Pemda DKI Jakarta rajin menyokong setiap upaya untuk melestarikan masjid ini. Di sekeliling masjid sekarang sudah dibuatkan pagar beton, berbentuk seperti pagar batas provinsi. Untuk menjangkau masjid, dari Tanjung Priok ada angkutan umum yang menuju ke Pasar Cilincing. Dan dari pasar Cilincing, pengunjung mesti berganti angkutan yang menuju ke arah Marunda. Dapat pula dipilih Angkot jurusan Bulak Turi, yang melintas ke jalan masuk wilayah perkampungan Marunda.

Celebrities Drawn in Pencils

Misteri Hari-Hari Yang Hilang Dalam Sistem Penanggalan



"Ada kejadian aneh yang terjadi pada tahun 1752 bulan september, dimana dunia pernah kehilangan 11 hari. pada bulan september tidak ada tanggal 3 - 13. jadi dari tanggal 2 langsung lompat ke tanggal 14. bagi yang pengen lihat, coba aja atur kalender komputer kalian. cuman sayang, buat pengguna windows, tidak bisa melihat kalender tersebut, bagi yang pakek linux, ato yang selain windows, coba deh, set tanggal komputer kalian bulan september tahun 1752".


The www.timeanddate.com
Calendar Generator


Enter year:


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Di bulan September 1752 sistem penanggalan Julian digantikan dengan sistem penanggalan Gregorian di Inggris dan daerah jajahannya di Amerika. Sistem penanggalan Julian lebih lambat 11 hari dari sistem penanggalan Gregorian. Jadi tanggal 14 September adalah tanggal sesudah 2 September pada saat hari penggantian. Hasilnya dari tanggal 3 September sampai 13 Spetember benar-benar tidak terjadi apa-apa atau kosong.

Penggantian sistem penanggalan juga berakibat pada perayaan ulang tahun George Washington. Dia lahir pada tanggal 11 Februari 1731, tapi perayaannya dilaksanakan pada tanggal 22 Februari karena ada pengurangan 11 hari pada saat penggantian sistem penanggalan. Pada saat yang bersamaan, perayaan Tahun Baru diganti dari tanggal 25 Maret ke tanggal 1 Januari, jadi sesuai dengan sistem penanggalan yang baru, Washington dilahirkan pada tahun 1732.

Sistem penanggalan Romawi yang pertama memiliki 10 bulan dan 304 hari dalam satu tahun dimulai dengan bulan Maret. Januari dan Februari ditambahkan belakangan. Di tahun 46 sebelum Masehi, Julius Caesar membuat “Tahun Membingungkan” dengan menambahkan 80 hari dalam satu tahun dan menjadikannya 445 hari untuk menyesuaikan penanggalan dengan musim yang sedang berlangsung.

Tahun matahari – yang terdiri dari 365 hari dan 6 jam – digunakan sebagai dasar perhitungan sistem penanggalan. Untuk menjaga sisa waktu 6 jam, setiap empat tahun sekali jumlah hari dalam satu tahun menjadi 366 hari. Karena itulah Caesar mengeluarkan keputusan bahwa hari pertama di bulan Januari sebagai awal tahun.

Di tahun 325 sesudah masehi Constantine yang Agung, penguasa Roma pertama yang memeluk agama Nasrani, memperkenalkan hari Minggu sebagai hari yang suci untuk setiap 7 hari. Dia juga memperkenalkan Paskah (yang harinya berpindah-pindah setiap tahun) dan Hari Natal (yang harinya tetap setiap tahun).

Pada tahun 1545 Dewan dari Trent diberi kuasa oleh Paus Paulus III untuk merevisi sistem penanggalan sekali lagi. Dengan masukan dari seorang astronom Pastor Father Christopher Clavius dan fisikawan Aloysius Lilius, Paus Gregorius XIII memerintahkan bahwa Kamis, 4 Oktober 1582 adalah hari terakhir dari sistem penanggalan Julian. Hari berikutnya adalah Jumat, 15 Oktober.

Tahun Kabisat

Untuk ketelitian jangka panjang, setiap 4 tahun dibuat melompat satu tahun kecuali jika tahun itu adalah tahun pergantian abad seperti 1700 atau 1800. Tahun pergantian abad dapat dilompati jika tahun tersebut dapat dibagi dengan empat ratus (misalnya 1600). Aturan ini menyisihkan tiga tahun lompatan setiap empat abad, membuat sistem penanggalan menjadi cukup akurat untuk tujuan umum.

Kaum Protestan tidak menghiraukan sistem penanggalan baru yang diperintahkan oleh Paus. Itu berlangsung sampai tahun 1698 saat Jerman dan Belanda mengganti sistem penanggalan mereka dengan penanggalan Gregorian. Seperti yang telah disebutkan, Inggris mengadakan pergantian pada tahun 1752. Rusia mengadopsi sistem penanggalan baru di tahun 1918 dan Cina di tahun 1949.

Tanpa menghiraukan tahun lompatan, tahun Gregorian sekitar 26 detik lebih panjang dibandingkan periode orbit bumi. Jadi millenium ketiga dimulai pada jam 09.01 malam tanggal 31 Desember 1999. Tetapi sebelum anda lega, ingat bahwa penanggalan Gregorian dimulai dengan tahun 1 dan bukan tahun 0. Dengan menambahkan 2000 tahun berarti bahwa milenium ke tiga dimulai pada jam 21 lebih 34 detik pada tanggal 31 Desember 2000.

Bagaimanapun, karena Dionysis Exeguus – seorang rahib abad ke 6 yang mengganti sistem penanggalan berdasarkan kelahiran Yesus Kristus – salah melakukan perhitungan atas ditemukannya Roma sekitar 4 tahun (dan mengabaikan tahun 0), jadi MILENIUM KE TIGA yang sebenarnya dimulai pada tanggal 31 December 1995.

Sistem 24 jam sehari diperkenalkan pada abad ke 4 sebelum masehi oleh bangsa Sumero-Babylon.

Di tahun 1905 Einstein membuktikan dalam teori relativitasnya bahwa kecepatan waktu tergantung dari pergerakan suatu benda, jadi semakin cepat suatu benda bergerak maka waktu yang berjalan akan semakin lambat.

Di tahun 1972, pengukuran waktu berdasarkan sistem Atom (Atomic time) menjadi standar resmi dunia untuk pengukuran waktu sesuai kesepakatan Co-ordinated Universal Time (UTC).
- - - - - - - - - - -

The Mystery of the Missing Days


On September 2, 1752, an odd happening occurred that's still keeping genealogists on their toes. On that day, the British Isles and all the English colonies, including America, lost 11 days--September 3 through 13. People went to sleep and when they awoke the next morning, the date had changed to September 14. There were riots in rural villages since the people thought the government was trying to cheat them out of 11 days of their lives. Though these days disappeared in English lands in 1752, a number had already vanished in other places--France in 1582, Austria in 1584, and Norway in 1700.

The British were among the last countries in the world to accept that fact they were using a flawed calendar. The Julian calendar--named after Julius Caesar, who adopted it around 45 B.C.--declared March 25 New Year's Day and added that the year would be 365 days and 6 hours long. The Nicene Council officially adopted the calendar in 325 A.D. As it became possible to measure the length of the solar year more accurately, astronomers found that the Julian system exceeded the solar year by 11 minutes, or 24 hours every 131 years, and three days every 400 years. This excess amounted to 10 days between 325 A.D. and 1582 A.D.

Pope Gregory XIII ordered a new calendar, called the Gregorian calendar in 1582, when most of the world jumped forward by 10 days on October 5, thus restoring the vernal equinox to March 21. To prevent the recurrence of this error, he ordered that, in every 400 years, leap year's extra day should be omitted three times. To accomplish this in an orderly fashion, he omitted the last day of February on centennial years of which the first two digits couldn't be divided by four without a remainder. Thus, it was omitted in 1700, 1800, and 1900, but won't be omitted in 2000.

All Catholic countries, following the edict of the Pope, adopted the new system. But England, then in difficulties with the Church of Rome, refused to go along with the new calendar until the mid-18th century and by then the difference had grown to 11 days. All British lands except Scotland, which changed its calendar 100 years before, now celebrated New Year's Day on January 1. In Russia, the Julian calendar continued to be used.

Despite the official calendar, people in England and the colonies began to use the Gregorian system as early as the 16th century. Thus, many early colonial records include double dates, written as "12 February 1661/1662," indicating that, although it was officially 1661, some considered it to be 1662.

Genealogists, especially those just starting out on their quest for ancestors, need to double-check dates found in English-speaking countries between 1582 and 1752. Are these dates listed as Old Style or New style? Is there a date listed as 1750/51? That means it would have probably been between January 1 and March 24, which means that 1750 is the old-style notation and 1751, the new one. These double dates occur only in January, February and March--never in any other months and never after 1752.

In addition, dates in the 17th century frequently have the month indicated by its number rather than its name. This was because most of the months had Roman or "pagan" names and the Puritans and Quakers disliked them. Since March was considered the first month of the year before 1752, a date before that might read like this: "13th, 2nd mo:1683." This becomes "13 April 1683." Generally, the day came first and the month second, but to be sure, genealogists make sure by comparing the date with others in the same record.

Frequently, this change in the calendar will explain the birth of two children apparently within too short a period. Thus, if a researcher finds that Joshua and Rachel Smith had a daughter Mary, born 22 March 1638, and from another record a son, Henry, born 27 February 1639, it would seem that they were born 28 days apart, but were actually born 11 months apart, according to old and new-style dating.
Sumber : Time and Date

Senin, 07 Januari 2013

Fools Garden Group Band dari Negeri Industri - Jerman

Oleh Irwan Firdaus

Fools Garden is a German musical group formed in 1991 under the name Fool's Garden (with apostrophe), comprising singer Peter Freudenthaler, guitarist Volker Hinkel, bassist Thomas Mangold, keyboardist Roland Röhl and drummer Ralf Wochele. They debuted in 1991 with the eponymous album Fool's Garden, the next (1993) was album Once in a Blue Moon. Two years later Fool's Garden issued their third album Dish of the Day, scoring a massive European and Asian chart hit with "Lemon Tree".

Go And Ask Peggy For The Principal Thing followed in 1997, along with three albums in 2000, 2003 and 2005. In 2003 three members left the band and were replaced by Dirk Blümlein (bassist), Claus Müller (drummer) and Gabriel Holz (2nd guitarist, left the band in 2007), and the name of the band changed to Fools Garden (no apostrophe).

The band has taken the habit of covering rock 'n' roll classics during live performances (The Beatles' Ticket to Ride or The Who's My Generation). Fools Garden's interest in British music is so big that cover versions of The Beatles's songs Cry Baby Cry and Martha My Dear can be found on their studio albums.

The band released a greatest hits compilation on October 2, 2009. The album, titled High Times, contains 15 songs including a previously unreleased track.

Soucre : Foolsgarden.de

"Lemon Tree" is a song by German britpop band Fool's Garden from the album Dish of the Day, which was released as a single in 1995 and became a major international hit in 1996. The single reached number 26 in the UK charts and remained at number one for several weeks in Germany. It also reached number one in Ireland, where Dustin the Turkey recorded a parody called "Christmas Tree". Taiwanese singer Tarcy Su (in both Mandarin & Cantonese) released covers of the song as did Korean singer Park Hye Kyung.The band recorded a new version of the song in prior for their 2009 release High Times - The Best of Fools Garden. The singles "Wild Days" and "Suzy" were also re-recorded for this album".

 

irfblog. Diberdayakan oleh Blogger.