Popular Posts

irfblogBacklink






Rating for erosisland.blogspot.com

My Ping in TotalPing.com

desain 1

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

desain 2

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

desain 3

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

desain 4

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

desain 5

Lawan rasa takut dan jalin silaturahmi dengan sesama rekan alumni.

Minggu, 17 Februari 2013

Siapa Sangka Kalau Zaman Dulu Pria Memakai High Heels

Sepatu berhak tinggi yang kini kebanyakan dipakai oleh perempuan, ternyata pernah menjadi aksesori penting bagi laki-laki selama beberapa generasi.

Selama ini pengguna sepatu berhak tinggi terkesan cantik, provokatif dan seksi, tetapi tak sedikit yang menyebutkan sepatu jenis ini tidak praktis, dan bukan pilihan yang tepat untuk berjalan, mendaki ataupun menyetir.

Sejatinya, sepatu berhak tinggi ini memang tidak dirancang untuk berjalan kaki.

“Sepatu berhak tinggi dulu digunakan selama beberapa abad di seluruh wilayah timur sebagai bentuk alas kaki untuk berkuda,” kata Elizabeth Semmelhack dari Museum Sepatu Bata di Toronto.

Keahlian menunggang kuda sangat penting dalam gaya bertempur di Persia, atau yang kini dikenal dengan nama Iran.

“Ketika para tentara berdiri di pijakan kaki, hak tinggi membantunya untuk tetap berada dalam posisinya jadi dia dapat menembakkan anak panah dengan efektif,” kata Semmelhack.

Pada akhir abad 16, Shah Abbas yang berasal dari Persia memiliki pasukan kavaleri terbesar di dunia. Dia sangat berminat untuk menjalin hubungan dengan penguasa di Eropa Barat untuk membantunya melawan musuh besarnya, Kerajaan Ottoman.

Jadi pada 1599, Abbas mengirimkan misi diplomatik Persia pertama ke Eropa – ke negara-negara Rusia, Norwegia, Jerman dan Spanyol.

Gelombang ketertarikan kepada sesuatu yang berbau Persia pun terjadi di Eropa Barat. Model sepatu Persia pun diadopsi oleh para aristokrat salah satunya penggunaan hak tinggi.

Ketika masyarakat kelas bawah mulai menggunakan sepatu berhak tinggi, para aristokrat pun menambah ukuran hak di sepatu mereka agar tak sama.

“Salah satu cara terbaik untuk menjelaskan status adalah melalui melalui sesuatu yang tidak praktis,” kata Semmelhack, sembari menambahkan bahwa kalangan kelas atas selalu menggunakan sesuatu yang tidak penting, tidak nyaman dan pakaian mewah untuk menunjukan status mereka.

“Mereka tidak berada di lapangan untuk bekerja dan mereka tidak harus berjalan jauh.”

Kalangan kerajaan

Salah satu raja yang menggunakan sepatu berhak tinggi adalah Louis XIV dari Prancis, dengan lapisan berwarna merah. Kemudian, Charles II dari Inggris dalan potret penobatannya di tahun 1661 tampak menggunakan sepatu dengan gaya hak merah dari Prancis.
Louis XIV mengenakan sepatu berhak tinggi pada lukisan tahun 1701
Pada 1670an, Louis XIV menerbitkan maklumat yang berisi, hanya kalangan istana yang diijinkan untuk menggunakan sepatu berhak merah.

Meski pertama kali diadopsi oleh laki-laki, tetapi kemudian digunakan oleh busana perempuan yang mulai memasukan elemen pakaian pria dalam busana mereka.

“Pada tahun 1630 an anda dapat melihat perempuan memotong rambut mereka, menambahkan tanda pangkat pada pakaian mereka,” Semmelhack.

“Mereka merokok, menggunakan topi yang membuat mereka lebih maskulin. Dan ini alasan mengapa perempuan mengadopsi sepatu berhak tinggi – merupakan salah satu upaya untuk memasukan unsur maskulin ke busana mereka.”

Tetapi tren itu terjadi sampai abad 17, seiring dengan perubahan tren.

“Anda dapat melihat perubahan pada hak sepatu,” kata Helen Persson, seorang kurator di Museum Victoria dan Albert di London. “Para pria mulai menggunakan hak sepatu kotak, dan lebih rendah, sementara perempuan mengunakan hak sepatu yang ramping.”

Pada 1740 an para pria menghentikan penggunaan sepatu berhak tinggi. Setelah revolusi Prancis, hak tinggi juga menghilang dari gaya busana perempuan.

Tetapi kemudian, pada pertengahan abad ke 19, sepatu hak tinggi kembali muncul dalam sebuah foto porno di kartu pos yang menampilkan model dengan pose telanjang dengan menggunakan high heels.

Elizabeth Semmelhack yakin asosiasi terhadap pornografi itu yang membuat penggunaan high heels dianggap seksi bagi perempuan.
Model sepatu laki-laki yang baru yang digunakan para koboi pada 1960an.
(dari berbagai sumber).

Sabtu, 16 Februari 2013

Perkumpulan Kipas Hitam di Indonesia

Meski kalah perang, Jepang tak mau menyerah begitu saja. Untuk menghadapi Sekutu, dibentuklah sejumlah perkumpulan rahasia. Anggota Kipas Hitam membantu gerakan Dood alle Inlanders (bunuh semua bangsa Indonesia).

Setelah Jepang menyerah terhadap Sekutu pada 14 Agustus 1945, Departemen Propaganda (Sendenbu) di bawah pimpinan Hitoshi Shimizu berusaha melakukan perlawanan. Dia mendirikan perkumpulan rahasia Ular Hitam, berisi orang-orang Indo-Belanda bermarkas di Bogor; Chin Pan, menampung orang-orang Tionghoa; dan yang terpenting adalah Kipas Hitam.

“Kipas Hitam dibentuk untuk mempersiapkan orang-orang Indonesia melakukan perang kemerdekaan di bawah bimbingan Jepang,” tulis Joyce C. Lebra dalam Tentara Gemblengan Jepang.

Menurut Aiko Kurasawa dalam Mobilisasi dan Kontrol, Shimizu adalah seorang propagandis profesional yang memulai kariernya di China pada 1930-an. Dia kembali ke Jepang pada 1940 dan bergabung dengan Persatuan Pembantu Pemerintahan Kekaisaran (Taisei Yokusankai), organisasi massa bentukan pemerintah Jepang, yang kemudian menjadi model bagi Jawa Hokokai. Dia juga bergabung dengan Toa Remmei (Federasi Asia Timur).

Shimizu, sebagai dikutip Lebra, ingat, “Saya berafiliasi dengan Toa Remmei di masa lalu, dan saya punya gagasan untuk mengembangkannya di Indonesia sebuah gerakan spiritual populer yang mencerahkan, yang bisa disebut sebagai gerakan Asia.”

Shimizu sempat berhenti dan bekerja di Biro Penerangan Kabinet (Naikaku Johokyoku), hingga ditarik oleh Angkatan Darat ke-16 sebagai atase sipil yang bertugas militer dan bertanggungjawab atas propaganda di Indonesia. Di sinilah ide-idenya direalisasikan, dengan membentuk organisasi-organisasi massa yang akan dimobilisasi untuk memberi dukungan politik bagi kepentingan perang Jepang.
Shimizu dekat dengan orang-orang Indonesia, dari kalangan pemuda maupun tokoh nasional seperti Sukarno-Hatta. Dia memberikan rumah di Pegangsaan Timur 56 dan mobil limusin Buick –kelak menjadi mobil kepresidenan– untuk Sukarno. Menjelang proklamasi, dia membantu mencarikan kain merah putih untuk bahan Fatmawati membuat bendera.

Dia berperan dalam pembentukan organisasi massa yang menggerakkan dukungan politik bagi Jepang: Gerakan Tiga-A (Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia), Pusat Tenaga Rakyat, Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Rakyat), dan Shuisintai (Barisan Pelopor).
Dia juga mendirikan Asrama Angkatan Muda di Menteng 31, yang menyediakan tempat bagi para pemuda untuk mendapatkan pendidikan politik. Pembentukan sejumlah perkumpulan rahasia menjadi salah satu upaya terakhirnya di tengah kekalahan perang Jepang.

Kipas Hitam bukanlah khas Indonesia. Menurut R-H. Barnes dalam Fransiskus/Usman Buang Duran: Catholic, Muslim, Comunist, Kipas Hitam bersama Banteng Hitam dan Naga Hitam merupakan bagian dari Perkumpulan Naga Hitam (Kokuryukai).

Perkumpulan Naga Hitam merupakan kelompok ultranasionalis paramiliter Jepang yang dibentuk pada 1901 oleh Ryohei Uchida. Perkumpulan ini menerbitkan jurnal dan menggelar sekolah pelatihan spionase, yang dikirim untuk mengumpulkan informasi dari Rusia, Manchuria, Korea, dan China. Selain itu, organisasi ini menekan para politisi Jepang agar mengadopsi kebijakan luar negeri yang kuat. Kokuryukai mendukung Pan-Asianisme.

“Para anggota Perkumpulan Naga Hitam melakukan aksi bersenjata, provokasi dan pembunuhan guna kepentingan rezim kekaisaran. Terutama saat penaklukan Manchuria (China), mereka melakukan pembunuhan dan propaganda yang aktif dan efektif,” tulis Peter Schumacher dalam Een Bende op Java.

Di Indonesia, suratkabar Persatoean mengindikasikan bahwa dana pembentukan Kipas Hitam berasal dari “fonds kemerdekaan” yang dikumpulkan Jepang selama pendudukan. Fonds ini dimaksudkan untuk kegiatan pemuda, pendidikan, dan bantuan bagi rakyat miskin. “Yang harus bertanggung jawab atas sebagian besar propaganda ini ialah Hitoshi Shimizu,” tulis Persatoean, 9 Mei 1946.

Tapi Shimizu tak bisa mengawal perkumpulan rahasianya. Dia keburu ditangkap Sekutu pada akhir 1945. Dia diinterogasi di Jakarta dan mengaku bertanggung jawab atas propaganda supaya penduduk membeci segala bangsa berkulit putih, terutama Belanda, “dan menyusun gerakan rahasia yang akan mampu bekerja atas kemauan sendiri, bila Jepang terpaksa menyerah sendiri, dia mendirikan Kipas Hitam,” tulis Soeloeh Ra’jat, 23 Agustus 1946.

Tanpa Shimizu, Kipas Hitam terus berjalan. Keberadaannya bahkan menarik perhatian banyak pemuda, dan juga Sutan Sjahrir. Dalam pamfletnya Perdjoengan Kita, Sjahrir menulis betapa perkumpulan rahasia Jepang, termasuk Kipas Hitam, mulai memberi pengaruh pada para pemuda. "

Meskipun secara lahir para pemuda membenci Jepang, namun jiwa mereka telah terpengaruh oleh propaganda Jepang, sehingga tingkah laku dan cara berpikir mereka mencontoh Jepang. Ini terlihat dari kebencian mereka terhadap bangsa-bangsa asing, terutama Sekutu dan Belanda,” tulis Sjahrir.

Alih-alih melawan Sekutu, Kipas Hitam malah membuat kekacauan di sejumlah tempat. Di Bondowoso, misalnya, ditemukan selebaran dan pamflet, mengatasnamakan Kipas Hitam dan Pedang Samurai, yang berisi ancaman kepada polisi setempat. “Pedang Samurai yang selama perang hanya membuktikan kekejaman terhadap penduduk dan Kipas Hitam yang hanya mengacau dan merusak harus lenyap dari Indonesia,” tulis Pelita Rakjat, 2 Juli 1948.

Anggota Kipas Hitam pun harus berhadapan dengan para pemuda republiken. Soeara Rakjat, 1 Oktober 1945, memberitakan pemuda republiken menangkap 20 anggota Kipas Hitam di stasiun kereta api dan menyita sejumlah senjata. Penangkapan dilakukan oleh para pemuda kereta api, Barisan Pelopor, polisi, dan lain-lain. Pemuda kereta api juga menangkap empat anggota lainnya di sebuah terowongan kereta api dan menyita uang sebesar f.50.000.

Di Surabaya, dilakukan razia, terlebih tersiar kabar anggota Kipas Hitam membantu gerakan Dood alle Inlanders (bunuh semua bangsa Indonesia). Menurut Sutomo, para pemuda dan anak kampung sering memberhentikan mobil pembesar Jepang. Setelah berhenti, mereka memaksa penumpang turun, dan menginterogasi apakah kenal gerakan Kipas Hitam atau tidak. Jika tak kenal, mereka boleh melanjutkan perjalanan tapi dengan berjalan kaki. Mobil disita. “Alasan mencari kaki tangan Kipas Hitam terus digunakan oleh rakyat dan pemuda dalam usaha menambah jumlah kendaraan untuk Republik Indonesia,” kata Sutomo dalam Pertempuran 10 November 1945: Kesaksian dan Pengalaman Seorang Aktor Sejarah.

Gerakan Kipas Hitam perlahan memudar.

Di kemudian hari, Shimizu tetap menjalin kontak dengan Indonesia. Dia membentuk Asosiasi Kebudayaan Jepang-Indonesia dan, setelah tahun 1964, berusaha menghubungkan perkumpulan kebudayaannya dengan Lembaga Persahabatan Indonesia-Jepang, yang diketuai Ratna Sari Dewi sejak Mei 1964. Dia kembali mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh yang pernah dia kenal di zaman Jepang pada 1977, termasuk menemui Fatmawati.

(Teks, Foto diambil dari berbagai sumber)

Jumat, 15 Februari 2013

Catatan Lain Tentang "Nocturno" (Fragment)

Nocturno 

(Fragment)

Aku menyeru – tapi tidak satu suara
membalas hanya mati di beku udara
Dalam diriku terbujur keinginan
juga tidak bernyawa.

Mimpi yang penghabisan minta tenaga..
Patah kapak sia-sia berdaya
Dalam cekikan hatiku

Terdampar… Mengenyam abu dan debu
Dari tinggalannya suatu lagu.
Ingatan pada Ajal yang menghantu.
Dan dendam yang nanti membikin kaku...

Pena dan penyair keduanya mati,
Berpalingan!

1946
 ..........................................................
Nocturno
(Fragment)
..........................................................
//Aku menyeru – tapi tidak satu suara
membalas,/ hanya mati di beku udara./
/Dalam diriku terbujur keinginan,/
juga tidak bernyawa./
/Mimpi yang penghabisan minta tenaga,/
Patah kapak,/ sia-sia berdaya,/
Dalam cekikan hatiku/
/Terdampar..../ Mengenyam abu dan debu
Dari tinggalannya suatu lagu./
/Ingatan pada Ajal yang menghantu./
Dan dendam yang nanti membikin kaku..../
..................................................
/Pena dan penyair/ keduanya mati,
Berpalingan!//
 

1946

Apresiasi Struktur Fisik dan Struktur Batin

Nocturno

Struktur Fisik Puisi Chairil Anwar

  • Diksi (diction) -- Pemilihan diksi penyair dalam sajak ini lebih dalam. Terlihat bahwa penyair sudah pandai dalam memilih kata. Pemilihan kata-kata yang biasa di dengar dalam kehidupan sehari-hari yang tersusun dan menjadi lebih berarti serta benar-benar mendukung maksud puisinya. 
  • Imaji, daya bayang (imagery) -- Penyair menggunakan citra intelektual, membayangkan proses datangnya kematian pada dirinya. Ia penggunakan citra pendengaran, Aku menyeru – tapi tidak satu suara membalas, citra gerak, Pena dan penyair keduanya mati, Berpalingan!. 
  • Kata konkret (the concrete word) -- Kematian dan proses berlangsungnya kematian itu pun digambarkan secara nyata oleh penyair. Dimana orang yang mati akan terbujur kaku dan lepas dari segala yang masih hidup. 
  • Gaya bahasa (figurative language) -- Gaya bahasa penyair dalam sajak ini sangat menarik. Dengan gambaran proses kematian sesuai dengan gambaran nyata, melalui pemilihan kata-kata yang unik. Menginyam abu dan debu. Dari tinggalannya suatu lagu. selain itu, terdapat metafora dan allegori, Pena dan penyair keduanya mati, Berpalingan!. 
  • Irama dan rima (rhythm and rime) -- Memiliki irama yang bergantian antara tinggi dan rendah secara teratur. sajak Chairil ini mulai terlepas dari aturan-aturan lama. Hanya pada bait kedua berirama rangkai/rima rata, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir semua larik (aaaa).

Struktur Batin Puisi Chairil Anwar

  • Tema-arti (sense) -- Ternyata maut masih menggelayuti pikirannya, dalam puisi ini penyair menggambarkan proses datangnya kematian. Sang penyair bahkan seakan meramalkan sendiri bahwa hidupnya akan singkat.
  • Rasa (feeling) -- Penyair bersikap lebih mengerti dan semakin dapat menerima bahwa kematian memang sudah seharusnya datang dan harus diterima kapanpun sang kematian itu ingin datang. 
  • Nada (tone) -- Penyair masih bersikap rendah hati, isi sajaknya hanya menyatakan isi perasaannya dan kita sebagai pembaca dapat mengerti apa yang sebenarnya dirasakan penyair yang dia ungkapkan melalui sajaknya ini. 
  • Tujuan, amanat (intention) -- penyair hanya ingin menyatakan pandangan hidupnya serta keyakinannya akan sesuatu yang dinamakan kematian.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Chairil. 2007. Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Sardjono, Partini. 1992. Pengantar Pengkajian Sastra. Bandung: Yayasan Pustaka Wina Pradopo, Rahmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

================================================================

Catatan lain tentang "NOCTURNO" (Fragment)

Warung Kopi by Ritz
Adalah sebuah kata asing yang tiba-tiba saja mencuat ketika aku masih di bangku Sekolah Dasar (SD) dan sering kukutip. Awalnya aku membacanya di badan bus saat diajak bapak lewat jalanan kota. Akhirnya, kata ''nocturno'' ini, dari badan bus mampir di lembar-lembar buku catatan. Maklum, istilah asing terasa lebih keren. Walau tak tahu arti dari kata asing itu.

Kali ini, ''nocturno'' kembali mampir dalam catatanku di halaman ini. Dan masih tetap keren. Sekarang aku tahu apa arti kata ini. Guru biologi menyebut beberapa "hewan yang aktif di malam hari" sebagai "hewan nocturnal".

Manusia makhluk yang rumit. Kompleks maksudnya. Mampu memilih -atau bisa saja terpaksa- aktif di malam hari. Padahal pada umumnya manusia aktif di siang hari.

Pola terbalik ini tentu bersemangatkan sebuah peluang, dan pemenuhan kebutuhan. Seperti yang dilakukan bapak sopir atau ibu penjaga warung. Mereka sebagai pihak penyedia alat pemuas kebutuhan atas permintaan yang selalu saja hadir. Dan kembali lagi, jika permintaan tinggi, kebutuhan pak sopir dan ibu penjaga warung terpenuhi. Tak peduli harus menjadi manusia "nocturno". Namanya juga manusia.

Riset/Teks/irf blog.

Kamis, 14 Februari 2013

PANTI REHABILITASI NARKOBA LIDO BOGOR

Berdasarkan data prevalensi penyalahguna Narkoba di Indonesia telah mencapai 1,99 % dari total populasi penduduk atau sekitar 3,6 juta jiwa. Delapan puluh enam persen penyalahguna Narkoba berada pada usia produktif. Upaya penanggulangan penyalahgunaan Narkoba bersifat komprehensif.

Bagi pecandu atau penyalahguna, Undang-Undang telah memberikan hak-hak bagi mereka untuk mendapatkan rehabilitasi medis dan sosial. Saat ini Badan Narkotika Nasional memiliki sebuah panti rehabilitasi berkapasitas 500 residen atau pecandu yang terletak di Lido Bogor.
Di pusat rehabilitasi ini tersedia fasilitas seperti olahraga, pusat keterampilan hingga kegiatan sosial yang berdiri di atas tanah seluas 112.000 m2.

Ada tahapan-tahapan yang akan dilalui pasien yang baru masuk hingga akhirnya dinyatakan sembuh total. Tiga tahapan yang dimaksud adalah tahapan Healing, Revolution dan Transformation.  Tahapan pertama, pasien akan menjalani detoksifikasi atau putus zat dengan terapi simptomik secara berkelanjutan selama satu bulan. Setelah itu, residen akan menjalani program primary selama 6 bulan. Yakni dengan pola Rehabilitasi sosial dengan therapeutic community (TC). Selanjutnya, program TC Lanjutan terapi vokasional dan resosialiasi selama 5 bulan. Setelah menjalani 1 tahun program, residen masih dilakukan pemantauan. Jika sudah dinyatakan sembuh, maka akan dikembalikan keluarganya masing-masing dengan sebelumnya menjadi tiga tahapan yang di sebut dengan program Back to family.

Metode yang digunakan untuk memulihkan pecandu adalah medis, sosial, therapeutic community (terapi berbasiskan komunitas), religi, akupuntur, dan hipnoterapi. Panti rehabilitasi ini tidak memungut biaya bagi para penyalahguna Narkoba yang akan berobat atau gratis. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi CALL CENTER BNN di nomor 021-80880011, SMS CENTER BNN 081 221 675 675 atau UPT T&R BNN di nomor 0251 – 822 0928 dan fax (0251) 8220875. Atau bisa mengirim email ke upt_tr_bnn@yahoo.com.. Kriteria residen (pecandu) yang dapat menjalani rehabilitasi di UPT Terapi dan Rehabilitasi BNN :
  1. Calon residen merupakan pengguna Narkoba aktif dengan pemakaian terakhir kurang dari 12 bulan. Jika terakhir mengkonsumsi Narkoba lebih dari 3 bulan, wajib melampirkan surat keterangan dokter yang menerangkan bahwa yang bersangkutan adalah pengguna Narkoba.
  2. Berusia 15 – 40 tahun. Jika berusia kurang dari 15 tahun hanya menjalani detoksifikasi dan entry unit.
  3. Tidak sedang hamil (pada calon residen wanita)
  4. Tidak menderita penyakit fisik (diabetes, stroke, jantung) maupun psikis yang kronis (yang dapat mengganggu pelaksanaan program)
  5. Calon residen datang dengan didampingi orang tua/wali
  6. Bagi residen yang menjalani rehabilitasi karena putusan pengadilan, wajib melampirkan salinan putusan.
  7. Calon residen yang menjalani rehabilitasi karena berdasar pada Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2010, harus didampingi oleh pihak pengadilan.

Ketentuan Rehabilitasi :

  1. Masa pembinaan residen selama 6 (enam) bulan meliputi detoksifikasi, entry unit, primary, dan re-entry.
  2. Selama masa detoksifikasi dan entry unit, residen tidak dapat dikunjungi oleh pihak keluarga.
  3. Residen baru dapat dikunjungi setelah memasuki fase primary dan re-entry
  4. Apabila residen melarikan diri dari tempat rehabilitasi dan kembali ke keluarga, maka keluarga wajib menginformasikan kepada UPT T&R BNN dan mengantar kembali untuk melanjutkan proses rehabilitasi.

Persyaratan Masuk.

Residen datang dengan didampingi anggota keluarga dan membawa :

A. Perlengkapan administrasi

  1. Foto copy kartu keluarga.
  2. Foto copy KTP calon residen (pasien) dan orang tua.
  3. Pas foto 4 x 6 sebanyak 2 lembar.
  4. Materai Rp. 6.000,- sebanyak 2 lembar.
  5. Bagi residen yang menjalani rehabilitasi karena putusan pengadilan, wajib melampirkan salinan putusan.

B. Perlengkapan (Pria)

  1. Pakaian : (1). Celana pendek 3/4 (di bawah lutut) sebanyak tiga buah, (2). Pakaian dalam sebanyak enam buah.
  2. Perlengkapan ibadah.
  3. Peralatan mandi dan cuci : (1). Handuk 1 buah, (2). Sabun mandi (batang) 2 buah, (3). Sikat gigi 1 buah, (4). Pasta gigi 1 buah, (5). Shampo (sachet) 10 buah, (6). Rinso (sachet) 2 buah.
  4. Kebutuhan pribadi : (1). Snack berupa susu sachet dan makanan ringan (tidak dalam bentuk kaleng), (2). Rokok 19 bungkus (bagi yang merokok).

C. Perlengkapan (Wanita)

  1. Pakaian : (1). Celana pendek 3/4 (di bawah lutut) sebanyak tiga buah, (2). Pakaian dalam sebanyak enam buah.
  2. Perlengkapan ibadah.
  3. Peralatan mandi dan cuci : (1). Handuk 1 buah, (2). Sabun mandi (batang) 2 buah, (3). Sikat gigi 1 buah, (4). Pasta gigi 1 buah, (5). Shampo (sachet) 10 buah, (6). Rinso (sachet) 2 buah.
  4. Kebutuhan pribadi : (1). Snack berupa susu sachet dan makanan ringan (tidak dalam bentuk kaleng), (2). Rokok 10 bungkus (bagi yang merokok).

Sumber BNN - LIDO

irfblog. Diberdayakan oleh Blogger.